Maket rumah malangan (Ist)
Maket rumah malangan (Ist)

Pemerintah Kabupaten Malang kembali mencoba membangunkan mimpi lama yang sempat terbangun. Walau belum terwujud sesuai ekspektasi, kini melalui Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang, mimpi tersebut kembali akan dibangunkan. 

Mimpi tersebut adalah memiliki atau memassifkan bangunan-bangunan masa lalu berupa rumah khas Malangan. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Wahyu Hidayat kepada MalangTIMES. 

"Ada rencana untuk kembali menghidupkan lagi hal tersebut. Setelah beberapa tahun lalu berjalan di sini. Tentunya dengan harapan baru bahwa hal ini bisa menjadi bagian dari tiga program strategis Kabupaten Malang," kata Wahyu,  Selasa (11/9/2018). 

Salah satu rencana menghidupkan kembali harapan tersebut adalah melalui lomba desain rumah khas Malangan. Lomba desain tersebut rencananya sebagai bagian dalam menguatkan sektor pariwisata yang kian menggeliat di berbagai wilayah perdesaan di Kabupaten Malang. Selain tentunya untuk melestarikan ciri khas Malangan berupa permukiman dan memperkenalkan kekayaan masa lalu kepada masyarakat yang dimungkinkan sudah tidak mengetahuinya.  

"Banyak harapan apabila rencana ini bisa berjalan. Selain sektor pariwisata, pelestarian bangunan kuno asli Malangan juga bisa menjadi ruang edukasi bagi masyarakat," ujar Wahyu. 

Walau bukan hal baru,  lomba desain rumah khas Malangan tetap memiliki urgenitas yang berfungsi mengikat masa lalu dengan masa kini. 

Wahyu mengatakan, tahun 2008 lalu, bertepatan dengan ulang tahun ke-1248 Kabupaten Malang, lomba desain rumah Malangan pernah digelar. Bahkan,  hasilnya saat itu dipamerkan dalam upaya untuk memperkenalkan sekaligus menerapkannya di beberapa wilayah. 

Tercatat,  tahun 2014 lalu,  rumah gaya Malangan bisa ditemui atas prakarsa dari adanya lomba desain tersebut. Ada sekitar 50 rumah tinggal (homestay) di lima desa wisata,  yaitu Desa Gubuk Klakah dan Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo; Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari (objek wisata ritual Gunung Kawi); Desa Bendosari di Kecamatan Pujon (ekowisata peternakan sapi perah dan pertanian); serta Desa Duwet Krajan di Kecamatan Tumpang. 

"Walaupun saat itu hanya bagian depan homestay yang diubah untuk bisa mencirikan rumah Malangan," ujar Wahyu yang juga melanjutkan,  apabila bisa dimasifkan di berbagai desa wisata lainnya,  maka akan lebih menguatkan karakter Kabupaten Malang. 

"Sudah ada sekitar 100 desa wisata saat ini. Tentunya apabila ini dihidupkan lagi akan menambah daya tarik pariwisata," imbuhnya. 

Konsep umum rumah khas Malang adalah limasan, bukan joglo. Walau limasan dan joglo mirip, filosofinya berbeda. Rumah limasan pada sisi kanan dan kiri dikepras. 

Di DPKPCK Kabupaten Malang,  maket rumah Malangan pun telah ada cukup lama. Maket tersebut,  menurut Wahyu, merupakan hasil penelitian cukup lama atas sejumlah rumah lama.  Seperti ditemukan di Desa Jenggolo, Kecamatan  Kepanjen, Gondanglegi maupun Kecamatan Lawang. 

"Secara keseluruhan rumah malangan dipengaruhi arsitektur  Jawa, Madura dan Belanda yang kemudian dipadukan, " pungkas Wahyu. (*)