Gus Fahmi, Pengasuh PP Putri Tebuireng (kanan) dan Plt Wali Kota Malang Sutiaji (Kiri) saat dalam Haul ke 1 Gus Luqmanul Karim (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Gus Fahmi, Pengasuh PP Putri Tebuireng (kanan) dan Plt Wali Kota Malang Sutiaji (Kiri) saat dalam Haul ke 1 Gus Luqmanul Karim (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

Pasca Kota Malang diterpa tsunami korupsi rombongan anggota DPRD Kota Malang, hingga 40 orang anggota DPRD Kota Malang ditahan KPK, Pengasuh PP Putri Tebuireng, Jombang, Gus Fahmi sempat menyinggung kejadian tersebut ibarat dengan negeri Mukidi.

"Nyuwun sewu, nggak saya sebut tempatnya di daerah mana, yang jelas itu di Negeri Mukidi. Di dunia ini nggak ada yang pasti. Hari ini kita dagang, kita untung, tapi mungkin besok nggak. Jabatan nggak pasti, hari ini kita bisa ngantor di Gedung DPRD misalnya, tapi mungkin besok sudah menginap di KPK," ujar Gus Fahmi saat peringatan Haul ke 1 KH. Gus Luqmanul Hakim di Pondok Pesantren (PP) Bahrul Maghfiroh Malang, Minggu (10/09/2018).

Ia menegaskan bahwa yang pasti adalah kematian. Selain berbicara tentang Negeri Mukidi, Gus Fahmi juga memberikan wejangan kepada Plt Wali Kota Malang, Sutiaji untuk menjadi wali kota yang amanah, menjalankan aspirasi rakyat dan tidak seperti pendahulunya.

"Nasehat yang sederhana justru kadang susah untuk diamalkan. Namun semua dimulai dari diri kita sendiri. Jadi Pak Wali Kota ini wali kota yang amanah tidak mengikuti pendahulunya, tidak menjadi santri KPK, nyuwun sewu, namun semoga menjadi santri Bahrul Magfiroh yang abadi," bebernya.

Sepanjang Gus Fahmi menyampaikan sedikit pesan, Sutiajipun nampak santai tersenyum  menanggapi hal tersebut. Para santri dan jamaah yang hadir pun sempat tertawa dengan ucapan dari Gus Fahmi yang berbicara mengenai Negeri Mukidi dan Santri KPK.