Para sastrawan yang menjadi pahlawan nasional. (inspirasi.co)
Para sastrawan yang menjadi pahlawan nasional. (inspirasi.co)

Memiliki kecintaan dalam dunia sastra, baik syair,  puisi, novel, sampai naskah drama, tidak membuat mereka menutup mata atas peristiwa di sekitarnya. Mereka menyadari negara tidak sekadar membutuhkan pena,  tapi juga senjata. 

Kecintaan terhadap dunia sastra juga diikuti mereka dalam pertempuran senjata melawan para penjajah di bumi pertiwi. Dari sastrawan menuju pahlawan di masa pra sampai revolusi nasional Indonesia. 

Mereka pun tercatat sebagai pahlawan  yang memiliki jejak kesastrawanan dalam berbagai bidang. Karya mereka pun sampai saat ini masih dijadikan referensi sastra.  Bersama  173 orang, yang terdiri dari 160 laki-laki dan 13 wanita,  mereka tercatat sebagai pahlawan nasional yang dimiliki bangsa Indonesia. 

Siapa sajakah mereka yang mampu menuliskan keindahan dalam masa di mana desing peluru, ledakan bom dan mortir, serta jeritan dan kematian di medan perang. Terus berkarya dan menjadi sejarah dunia sastra, MalangTIMES menyajikannya untuk Anda. 

1. Hamka

Sampai saat ini,  Hamka yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah tetap diingat dan dikenang jejaknya dalam dunia sastra. Sebut saja buah karya novelnya yang melegenda sampai sekarang,  yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. 

Hamka yang lahir  di Nagari Sungai Batang, Sumatera Barat (Sumbar)  pada 17 Februari 1908 bukan sekadar sastrawan. Beliau juga  ulama,  wartawan sekaligus politisi. Di masa perjuangan,  Hamka juga turut bergerilya melawan penjajah bersama dengan Barisan Pengawal Nagari dan Kota. Menelusuri hutan pegunungan di Sumbar, demi menggalang dukungan rakyat menentang kembalinya penjajah Belanda.

2. Muhammad Yamin

Pelopor Sumpah Pemuda 1928 yang lahir 24 Agustus 1903 di Talawi, Sumatera Barat ini tidak hanya dikenal sebagai seorang sastrawan produktif di masanya. M. Yamin juga dikenal luas sebagai sejarawan,  politikus dan ahli hukum. 

Kiprahnya dalam dunia sastra, khususnya puisi, terlihat tahun 1922. Yamin tampil dengan karya puisi Tanah Air yang menjadi kumpulan puisi modern Melayu pertama yang dipublikasikan. Selang enam tahun,  Tumpah Darahku terbit untuk menguatkan nasionalisme para pejuang dan masyarakat Indonesia yang berbeda-berbeda. Karya drama dengan latar belakang zaman Kerajaan Singosari pun di tahun yang sama lahir,  yaitu Ken Arok dan Ken Dedes. Selain tentunya karya-karya berupa  esai dan novel sejarah. 

3. Abdoel Moeis

Abdoel Moeis adalah wartawan,  sastrawan, sekaligus tokoh politik Sarekat Islam (SI). Dia lahir di Sungai Puar,  Sumbar, tanggal 3 Juli 1883. Pergulatan melawan penjajah beriringan dengan kecerdasannya dalam mengolah bahasa dalam novel. 

Salah Asuhan adalah salah satu masterpiece-nya. Bahkan,  novel yang kini masih terus dibaca ini dianggap sebagai salah satu karya sastra Indonesia modern awal terbaik sepanjang masa.

4.  Amir Hamzah

Raja penyair zaman Poedjangga Baroe dan satu-satunya penyair tanah air berkelas internasional dari zaman pra-revolusi nasional Indonesia. Begitulah Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera atau  Amir Hamzah dikenal. 

Keturunan bangsawan Melayu Kesultanan Langkat, Sumatera Utara, kelahiran Tanjung Pura 28 Februari 1911 berjiwa nasionalis ini tidak hanya larut di dunia puisi. Ia pun aktif dalam berbagai gerakan nasionalisme saat itu. 

Walaupun karya puisinya kental dengan topik cinta dan agama, misalnya dalam kumpulan puisi Njanji Soenji (Nyanyi Sunyi,  1937) dan Boeah Rindoe (1941), jiwa patrotik dan nasionalisme Amir Hamzah tetap berkobar melawan penjajah di negeri tercintanya. 

5. Raja Ali Haji 

Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama, menjadi kamus ekabahasa pertama di tanah air. Karangan Raja Ali Haji kelahiran Selangor sekitar tahun 1808. Dia pulalah sang pencatat pertama dasa tata bahasa Melayu melalui buku Pedoman Bahasa yang menjadi standar bahasa melayu. Bahasa yang pada Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan menjadi bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia.

Raja Ali Haji juga dikenal dengan karya Gurindam Dua Belas sekitar tahun 1847. Karya yang menjadi pembaharu arus sastra di masanya. Selain karya tersebut,  berbagai syair pun lahir dari kepiawaiannya. Misalnya Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah dan Syair Sultan Abdul Muluk. (*)