Tanaman Apel di Poncokusumo kini tak lagi sebanyak dulu. Petani pun beralih menanam jeruk (Pipit Anggraeni)
Tanaman Apel di Poncokusumo kini tak lagi sebanyak dulu. Petani pun beralih menanam jeruk (Pipit Anggraeni)

Kecamatan Poncokusumo menjadi salah satu penghasil apel terbesar di Kabupaten Malang.

Namun sayangnya, sebagian besar petani apel di daerah lereng Gunung Bromo itu kini beralih menanam jeruk dengan alasan mulai susah untuk mendapat hasil maksimal dari apel.

Kawasan pemukiman di Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo itu pun kini tak lagi dipenuhi dengan tanaman apel seperti sepuluh tahun yang lalu.

Kalau pun ada, tanaman tak sesubur sepreti dulu dengan jumlah buah yang menggelantung hanya sedikit.

Begitu juga pada kawasan perkebunan dan persawahan yang kini semakin banyak dengan pohon jeruk dengan buahnya yang menguning.

Beberapa halaman rumah warga pun kini juga banyak yang menanam komoditi jeruk.

Petani apel asal Kecamatan Poncokusumo, Masukari (63 tahun) menyampaikan, menanam apel saat ini tidak semudah dulu.

Lantaran cuaca yang kurang bersahabat, sehingga pohon yang ditanam sulit berbunga dan tak dapat berbuah.

"Cuaca yang terbaik untuk menanam apel itu adalah seperti di Batu. Sedikit panas dan sedikit mendung. Kalau ketika panas dan tiba-tiba hujan, maka bunganya akan langsung rontok dan tidak dapat berbuah," katanya pada MalangTIMES belum lama ini.

Perawatan ekstra keras pun harus dilakukan oleh para petani apel mulai dari menanam hingga menunggu proses pertumbuhan buah yang dimuali dari kemunculan bunga.

Ketika bunga biji tampak, maka dalam satu minggu bisa dilakukan pengobatan selama tiga sampai empat kali.

Sementara untuk jeruk menurutnya hanya perlu perawatan dan pengobatan selama satu kali dalam seminggu. Harga obat-obatan pertanian untuk perawatan apel dan jeruk pun menurutnya tergolong berbeda.

"Kalau obat-obatan tanaman apel itu mahal, beda sama jeruk. Apel itu mahal diongkos," jelasnya.

Dalam kondisi cuaca yang bagus, satu pohon apel miliknya biasanya dapat mengahsilkan apel manalagi sebanyak 10 kilogram.

Sedangkan saat ini, satu pohon apel miliknya mampu menghasilkan apel hanya tiga sampai empat kilogram saja.

Dengan luasan lahan miliknya adalah 200 meter persegi. Sebagiam dari lahannya itu saat ini bahkan beralih ditanami jeruk.

"Dan waktu panennya pun tidak dapat diprediksi. Biasanya enam bulan sekali, jadi setahun panen dua kali," pungkas pria yang mulai bertani apel sejak tahun 1984 itu.