Bupati Malang Dr H Rendra Kresna (foto : Imam Syafii/MalangTIMES)
Bupati Malang Dr H Rendra Kresna (foto : Imam Syafii/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Iklim investasi di Kabupaten Malang menunjukkan tren positif. Meski begitu, penanaman modal di bidang properti masih tetap "dipelototi", utamanya yang bergerak di bidang perumahan.

Hal itu disampaikan Bupati Malang Dr H Rendra Kresna belum lama ini. Rendra menegaskan bahwa investasi properti yang dilakukan di atas lahan sawah produktif tidak diizinkan. Para pengembang pun diminta untuk mendirikan perumahan di area yang benar-benar telah ditetapkan sebagai kawasan perumahan dan perkantoran. "Kami tidak mengizinkan jika itu dibuat di atas lahan yang telah dikeringkan," ucapnya.

Para pemegang modal yang akan berinvestasi di Kabupaten Malang dalam bidang properti disarankan untuk membeli lahan tegalan yang memang tidak memproduksi hasil pertanian. Pemetaan kawasan tersebut juga telah dibuat dan harus dipelajari sebelum membeli lahan. "Jangan hanya karena di pinggir jalan, lalu dibeli. Perhatikan tata ruang yang sudah dibuat," imbuh Rendra.

Lebih jauh dia menyampaikan jika upaya jemput bola juga dilakukan untuk menarik investor. Tak hanya di bidang properti, tapi juga bidang lain yang sudah masuk dalam kategori peta potensi yang meliputi bidang pertanian, pariwisata, hingga peternakan. "Kami datangi investor, kami permudah proses pelayanan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu," jelasnya.

Sementara itu, jika mengacu pada peta potensi yang dibuat oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (DPM-PTDP) Kabupaten Malang, sektor pertanian dan perkebunan termasuk dalam peluang investasi yang lumayan menggiurkan.

Hal ini tentu juga menjadi perhatian tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Malang, terutama untuk mempertahankan lahan sawah di samping tumbuhnya kebutuhan hunian dan investasi di bidang properti.

Berdasarkan data DPM-PTSP Kabupaten Malang, produksi padi setiap tahun mencapai 450.685 ton. Singosari merupakan kawasan penghasil padi terbesar dengan jumlah produksi 44,130 ton per tahun. Disusul Dampit dengan jumlah produksi sebesar 40 ribu ton.

Selanjutnya, untuk produksi jagung, Kabupaten Malang juga tak kalah dari daerah lain. Dalam setahun, 80.821 ton jagung dihasilkan dari hasil budi daya dengan luasan lahan luasan lahan 12.334 hektare. Penghasil jagung terbesar adalah Wajak, Turen, dan Singosari. 

Potensi dalam bidang pertanian dan perkebunan berikutnya adalah tanaman kopi, kakao, sayur, dan tebu. Dalam satu tahun, masing-masing sektor tersebut mampu memproduksi hingga ribuan ton. Seperti kopi, dengan luasan lahan mencapai 13.366,15 hektare dengan produksi pertahunnya mencapai 8.593 ton. (*)