Salah satu peserta festival sinden yang digelar oleh Disparbud Kabupaten Malang di pendapa Kabupaten Malang. Festival sinden tersebut menjaring 41 peserta yang didominasi generasi muda berusia 17 tahun ke atas, Senin (2/7/2018) (Nana)

Salah satu peserta festival sinden yang digelar oleh Disparbud Kabupaten Malang di pendapa Kabupaten Malang. Festival sinden tersebut menjaring 41 peserta yang didominasi generasi muda berusia 17 tahun ke atas, Senin (2/7/2018) (Nana)


Pewarta

Nana

Editor

A Yahya


Festival Sinden atau audiensi penyanyi jawa yang digelar dua hari (2-3 Juli 2018) oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang di pendapa Kabupaten Malang,  Kepanjen, mendapat respon positif dari generasi zaman now. 

Hal ini terlihat dari antusias peserta festival sinden yang didominasi oleh kalangan pelajar berusia 17 tahun di berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. 

Tercatat ada sekitar 41 peserta di hari pertama yang mengikuti festival sinden dalam upaya nguri-uri budaya jawa. Budaya yang kini semakin jauh dan dijauhi oleh generasi muda dikarenakan asumsi keliru berupa tidak kekinian atau kolot dan ketinggalan zaman. 

Asumsi inilah yang dipatahkan oleh para peserta festival sinden. Misalnya seperti yang disampaikan oleh Sri Bawon (21) yang baru saja lulus SMA dari Kecamatan Dau. 

Sri menyatakan,  bahwa budaya jawa khususnya nyinden semakin ditinggalkan generasinya. "Jarang banget nyinden diminati remaja. Hal ini yang membuat saya penasaran dan tertantang. Untuk membuktikan bahwa menjadi sinden bukan sesuatu yang ketinggalan zaman," kata Sri secara antusias kepada MalangTIMES,  Senin (2/7/2018) saat menanti panitia memanggil nomor urutnya. 

Sri melanjutkan dirinya mengikuti festival Sinden bukan sekedar untuk menjadi yang terbaik atau memenangi audiensi semata. Tapi, lebih pada ikut serta nguri-nguri budaya jawa yang kian ditinggal masyarakatnya sendiri. Padahal,  menurut Sri,  orang-orang luar negeri malah begitu semangatnya belajar berbagai budaya jawa. 

Festival Sinden secara langsung juga menjaga budaya jawa melalui kaderisasi di masyarakat Kabupaten Malang (Nana)

"Sinden sekarang juga banyak yang orang luar. Ini artinya mereka begitu tertarik dengan budaya jawa. Kenapa malah kita tidak menyukainya, " tanya Sri yang baru belajar beberapa tahun menyinden di desanya ini. 

Senada dengan yang disampaikan Lusmiah (17) pelajar salah satu SMA di Dau,  dirinya merasa tertarik untuk ikut serta belajar nyinden dan memberanikan diri mengikuti festival sinden. 

"Ini kesempatan bagi saya belajar sekaligus mengenal para pesinden yang ikut festival hari ini, " ujarnya. 

Lusmiah juga menyampaikan kegelisahannya atas budaya nyinden di wilayahnya yang semakin ditinggal generasi seusia dengannya tersebut. "Kita tahu bahwa para pesinden saat ini sudah banyak yang tua. Tanpa ada penerusnya bisa dibilang budaya nyinden akan mati, " ucap Lusmiah. 

Kaderisasi sinden juga merupakan harapan bagi Disparbud Kabupaten Malang. Melalui Made Arya Wedhantara Kepala Disparbud Kabupaten Malang,  pihaknya menyelenggarakan event tersebut untuk terus menjaga budaya sinden di wilayahnya. 

Made tidak menampik bahwa sampai saat ini sinden memang diisi oleh para pesinden yang telah berumur.  "Ini yang menjadi kegelisahan kami juga bapak Bupati Malang. Sehingga kita adakan kembali festival sinden di tahun ini. Harapan besar kita bahwa lahir kader sinden,  sehingga budaya jawa ini bisa tetap lestari, " ujar Made. 

 


End of content

No more pages to load