Roni Riyanto, ketua Yayasan Khadimul Ummah (berjenggot), saat bertemu dengan komisi 1, Disdikpora dan Kemenag di Masjid At Tauhid. (Agus Salam/Jatim TIMES)

Roni Riyanto, ketua Yayasan Khadimul Ummah (berjenggot), saat bertemu dengan komisi 1, Disdikpora dan Kemenag di Masjid At Tauhid. (Agus Salam/Jatim TIMES)



Komisi 1 DPRD Kota Probolinggo melarang lembaga pendidikan yang dikelola Yayasan Khodimul Ummah melakukan aktivitas belajar mengajar. Tak hanya itu. Komisi yang diketuai Abdul Azis tersebut juga tidak membolehkan menerima siswa dan pengajar baru.

Ketentuan itu berlaku sampai yayasan mengantongi izin dari instansi terkait. Baik Kemenag atau Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Probolinggo.

Larangan tersebut disampaikan Abdul Azis saat bertemu dengan ketua dan sekretaris Yayasan, Rabu (30/5) siang sekitar pukul 11.30. Pertemuan mendadak itu berlangsung di Masjid At Tauhid Jalan Taman Puspa Indah, Perumahan Sumbertaman (STI), Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Turut hadir di acara mendadak itu, Kepala Disdikpora Muhammad Sakur bersama staf dan Kepala Kemenag Muhfi Imron Rasyidi beserta kabag dan kasi-nya. Ketua RW 5 lingkungan setempat juga ikut nimbrung.

Hasilnya, komisi 1 meminta Yayasan Khadimul Ummah untuk tidak mengadakan kegiatan belajatr-mengajar, menerima siswa dan pengajar baru. Ketentuan tersebut berlaku lanjut sampai yayasan mengantongi izin dari Disdikpora atau Kemenag. Kecuali kegiatan tahfid Alquran. “Kalau mengaji Alquran, monggo diteruskan tidak masalah. Tapi kalau pendidikan formal semacam PUD (pendidikan usia dini), TK, SD atau SMP dan SMA, tidak boleh. Yayasan juga tidak boleh menerima murid dan ustad baru ya,” tandas Azis.

Kepada pengurus yayasan,  politikus PKB ini meminta untuk segera mengurus perizinan lembaga pendidikannya. Jika prosedur dan persyaratannya belum tahu, Ketua Yayasan Roni Riyanto dan sekretarisnya diminta berkoordinasi dengan Disdikpora dan Kemenag setempat. Kedua instansi pemerintah ini yang akan membantu yayasan. “Jangan beralasan tidak tahu prosedurnya lagi. Monggo secepatnya berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan atau Kemenag. Beliau-beliau ini yang akan membantu,” ujarnya.

Roni Riyanto yang diberi kesempatan berbicara mengatakan bersedia mengurus izin lembaga pendidikan yang dikelola. Dan selama izinnya belum selesai, ia tidak akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, menerima murid baru dan pengejar baru, sesuai apa yang dikatakan ketua komisi 1.

Dijelaskan, selama ini sekitar 5 tahun berlangsung, pendidikan PAUD, TK dan SD yang dikelolanya ikut kurikulum Taman Pendidikan Anak Sekolah (Tapas) Ar Rahmah yang berpusat di Mojokerto. “Lembaga pendidikannya milik yayasan. Kalau kurikulumnya kami ikut Tapas,” ucap Roni.

Mengapa ikut lembaga lain? Roni beralasan karena dirinya tidak begitu tahu banyak soal pendidikan. Karena itu, ia menyerahkan pengelolaan pendidikannya ke orang lain. Disebutkan, lembaga yang dikelola yayasannya adalah PUD, TK, SD dan tahfid Alquran. Untuk SD, yang diajarkan bahasa Indonesia dan metematika serta ngaji Alquran. “Pelajaran yang lain tidak kami ajarkan. Karena menurut saya, hanya matematika dan bahasa Indonesia yang dibutuhkan nanti di masyarakat,” pungkasnya.

Roni, yang tinggal di Jalan Citarum, Kelurahan Cutrahgrinting, Kecamatan Kanigaran, ini menjelaskan, pihaknya tidak mengurus izin karena Tapas Ar Rahmah di Mojokerto, telah memiliki izin. Ia percaya begitu saja kepada rekannya, pengurus Tapas Mojokerto. “Kata teman saya yang di Mojokerto, izinnya sudah ada. Jadi, kami diminta untuk tidak menurus izin lagi. Ya, semua itu karena ketidaktahuan kami. Tapi nanti saya urus izin-izinnya," tandasnya.

Dan lagi, untuk mendirikan pesantren, yayasan masih belum mampu. Sebab, informasi yang ia dapat, salah satu syaratnya harus memiliki lahan sendiri. Sedang yayasankan belum atau tidak mampu membeli. Lahan atau pekarangan yang ditempati Masjid At Tauhid berikut tempat pendidikannya wakaf dari seseorang yang kini masih belum diubah atas namanya. “Kami akan mengurus izin. Kalau syarat itu, sudah kami penuhi. Kami belum mampu membiayai perubahan status tanah wakaf,” jelasnya.

Sementara saat ditanya soal hubungan lembaga pendidikan dengan terduga teroris yang diamankan Densus 88, Roni, yang kelahiran Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, juga memberikan penjelasan. Sebenarnya, lanjut Roni, terduga  teroris bukan pengurus yayasan. Tetapi di antara mereka, ada yang mengajar di lembaga Tapas-nya. Setahun sebelumnya, ia sempat berselisih dengan salah satu terduga karena telah mengajari siswa di luar kurikulum Tapas.

Dan pengajar tersebut sudah diberhentikan. Di ajaran baru ini, mereka sudah tidak mengajar lagi. Hanya, terduga keburu ditangkap Densus 88. Terduga teroris itu di yayasan diberi tugas mengetik dan mempersiapkan  buletin mingguan untuk dibagikan di masjid-masjid . Namun belakangan, ia mengajarkan menembak kepada siswa. Padahal, menurut Roni, pelajaran atau pelatihan seperti itu tidak ada di kurikulum.

 “Kami sempat berselisih. Dan kemarin sudah diberhentikan untuk tidak ngajar di sini lagi. Kalau latihan memanah, ada. Itu kan sunah nabi untuk mengajarkan konsentrasi dan keseimbangan tubuh,” tambahnya.

Sedang terduga teroris lainnya mengajar Tahfid Alquran atau membaca (mengaji) Alquran. Roni mengaku tidak tahu apakah murid atau santrinya juga diajari pelajartan di luar kurikulum oleh terduga teroris. Yang jelas, lembaga pendidikan yang dikelolanya, tidak ada yang menjadi pengajar mata pelajaran kurikulum. Apalagi, sudah satu tahun lebih, terduga teroris sudah memisahkan diri atau keluar dari yayasan. “Mereka tempat tinggalnya dekat dengan tempet pembelajaran kami. Mereka sering ke sini. Masak saya mau ngusir,” ucapnya.

Diakui, dalam perjalanan mengelola yayasan, dirinya dan pengurus yayasan yang lain ada perbedaan pendapat atau perbedaan paham. Karena itu, terduga teroris kemudian keluar dari kepengurusan yayasan, namun terkadang mereka masih ke Masjid At Tauhid milik yayasan. “Gimana ya, akhirnya kami harus cerita. Memang ada dua kubu di sini. Akhirnya, pecah dan sekarang, kami saja yang menjadi pengurus yayasan. Terduga sudah tidak lagi,” pungkasnya.(*)


End of content

No more pages to load