Mahasiswi asal Malang yang studi di Taiwan, Richa Etika Ulhaq (foto: Instagram @richaeu)
Mahasiswi asal Malang yang studi di Taiwan, Richa Etika Ulhaq (foto: Instagram @richaeu)

Tantangan menjalani ibadah puasa Ramadan dirasakan sebagian perantau asal Indonesia. Ada saja yang harus mereka hadapi, apalagi bila berada di negara mayoritas berpenduduk non-muslim. Seperti yang terjadi pada mahasiswi asal Malang Richa Etika Ulhaq. 

Alumnus Universitas Brawijaya itu mengambil studi magister di National Central University Taiwan. Richa mengaku terik mentari di bulan Ramadan tahun ini bisa sampai 36 derajat Celcius.

"Panas banget, parah. Soalnya sudah mulai masuk musim panas. Mungkin tantangannya masalah cuaca ya karena di Indonesia kan tidak ada musim panas seterik di negara luar," cerita dia kepada MalangTIMES.

Untuk jam sahur dan buka puasa, Richa menjelaskan dirinya sahur pada pukul 03.00 pagi. Buka puasa pada pukul 18.00 sore. "Sahurnya jam setengah tiga atau jam tiga sih aku. Kalau buka puasanya sekitar jam setengah tujuh malam sih kalau di sini," kata pemilik akun Instagram @richaeu ini.

 


Menu sahur ala mahasiswi Malang, Richa Etika Ulhaq, di Taiwan (foto: Instagram @richaeu)

 

Soal makanan, Richa menjelaskan di Taiwan tidak kesulitan menemukan menu sahur dan buka puasa. Untuk menu sahur, ia biasa memasak sendiri menu makanan. Menu sahur ala Richa yang ia rasa mudah dan praktis.

"Kalau masalah makanan, insya Allah nggak ada sih karena di sini setiap hari di musala kampus menyediakan makanan buat iftar (buka puasa)," jelas Richa yang tinggal di Taoyuan District, Taiwan.

Menu yang disediakan di musala kampus tempat dia studi juga merupakan menu-menu khas Indonesia. Richa menyebut ada menu seperti bakwan dan pisang goreng sebagai menu pembuka iftar.

"Takjilnya kadang ada yang dari jamaah bikin sendiri. Misalnya bikin bakwan, pisang goreng atau nyiapin sendiri (snack atau roti) plus kurma," tukasnya. (*)