Ilustrasi cuaca terik. Awan putih berarak di atas lanskap Kampung Warna-Warni Jodipan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi cuaca terik. Awan putih berarak di atas lanskap Kampung Warna-Warni Jodipan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

 Puasa Ramadan 2018 diperkirakan mulai dijalankan oleh umat muslim mulai pertengahan Mei mendatang. Tahun ini, diperkirakan bulan puasa akan berlangsung di musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan terjadi pada April-Juni mendatang.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Karangploso Joko Budi Utomo menyebut, saat ini mulai memasuki masa transisi dari musim penghujan ke musim kemarau. "Ini sudah masuk pancaroba ya. Jadi meski mulai panas terik, tetapi hujan dengan skala lokal masih banyak turun," ujarnya.

Joko mengatakan, awal musim kemarau biasanya masih terjadi hujan. Namun, dengan intensitas yang tidak sebanyak saat musim hujan. "Bulan depan (April) perkiraan sudah masuk awal kemarau. Jadi kalau puasanya Mei, ya diperkirakan saat kemarau itu," paparnya. 

Secara rinci, dimaksud masuk musim kemarau ketika curah hujan di bawah 50 mm per 10 hari. Sedangkan selama kemarau, suhu udara di Kota Malang bisa mencapai 32 derajat celcius. "Ya mungkin sebagian ada persiapan khusus, supaya ibadahnya bisa lancar," imbaunya. 

BMKG merilis bahwa kemarau yang diperkirakan datang April mendatang bakal berlangsung bertahap. Daerah pertama yang memasuki musim kemarau yakni kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali. 

Baru kemudian meluas ke Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus-September mendatang. BMKG menyebut bahwa kemarau tahun ini tidak separah pada 2015 silam.

Hal tersebut karena sampai pertengahan 2018 ini, iklim di Indonesia masih dipengaruhi La Nina lemah. Sehingga, kemarau tahun ini akan berimplikasi positif pada tanaman palawija dan tanaman semusim yang tidak terlalu memerlukan banyak air.