Seniman Malang Mbah Kardjo yang tengah mengajari anak-anak membuat wayang daun di Festival Kampung Djanti Padepokan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Seniman Malang Mbah Kardjo yang tengah mengajari anak-anak membuat wayang daun di Festival Kampung Djanti Padepokan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Warga yang menikmati liburan di Kota Malang bisa menambah agenda kunjungan ke Festival Kampung Djanti Padepokan. Terutama yang ingin mengajak anak-anak bermain sembari belajar.

Kampung yang berlokasi di Jalan Janti Barat, RT 14 RW 04 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun itu menawarkan berbagai permainan tradisional Malangan. 

Seperti Rizky Pratama yang tampak asyik menyimak seniman Malang Mbah Kardjo menuturkan tahap demi tahap pembuatan wayang daun. Lembar-lembar daun mendong kering berwarna hijau pucat, di anyam satu persatu membentuk tokoh-tokoh dalam cerita Panji. 

Bagian ujung batang mendong yang terdapat kuntum-kuntum bunga kecil, dijadikan kepala wayang daun. Sehingga bunga-bunga itu seolah menjadi mahkota para tokoh wayang. Dengan telaten, Mbah Kardjo membimbing Rizky dan anak-anak lain membuat wayang daun itu hingga jadi. 

Menurut Rizky, dia kali pertama membuat kerajinan itu. "Kalau sudah tahu ya nggak sulit ternyata. Cuma susah kalau nggak pas bikin simpulnya, wayangnya berantakan," ujar bocah kelas 3 sekolah dasar itu. Bagi yang baru belajar, butuh waktu sekitar setengah jam untuk membuat satu wayang. 

Bukan hanya itu, di Festival Kampung Djanti Padepokan itu, anak-anak juga diajak belajar bermain dan belajar dolanan atau mainan tradisional. Mulai yang individual seperti dakon atau congkak, hingga permainan beregu seperti gobag sodor.

Juga berbagai macam kerajinan sederhana seperti menganyam bambu, hingga membuat kuda anyaman seperti yang digunakan untuk menari jaranan. Anak-anak juga diajak membuat payung tradisional, topeng Malangan dari bahan kertas, membuat batik cungkil, dan lain-lain.

Salah satu permaian yang mulai jarang ditemukan di keseharian anak-anak adalah dolanan Nyai Puthut. Permainan ini adalah permainan tradisional yang dulunya sering dimainkan pada saat terang bulan atau juga setelah memanen padi. Tetapi permainan tradisional atau dolanan anak-anak yang satu ini sudah nyaris punah. 

Apalagi di bagi anak-anak kekinian, permainan yang mengandung unsur mistis ini tampaknya tidak masuk akal. Permainan ini dimainkan secara berkelompok dan dibutuhkan kebersamaan dalam memainkannya. Caranya adalah kaki boneka Nyai Puthut dipegang pada sisi-sisinya oleh para penain. 

Mereka lalu berkonsentrasi menyalurkan energi yang dimiliki sampai boneka Nyai Puthut bergerak dengan sendirinya. Saat boneka bergerak, para pemain mengendalikan agar tidak sampai jatuh ke tanah. Yang menarik, saat mendengar tembang-tembang khusus dan musik kothekan, boneka itu seolah-olah menari. 

Tembang-tembang yang dinyanyikan adalah lagu anak-anak masa lampau. Lagu yang dipilih, misalnya Padhang Bulan, mempunyai makna yang mendalam yang isinya berupa nasehat-nasehat ataupun petuah-petuah.

Penanggung jawab kegiatan, Yongki Irawan menguraikan bahwa Festival Kampung Djanti Padhepokan tersebut digelar selama dua hari. Tepatnya mulai kemarin (30/12/2017) hingga hari ini (31/12/2017). Menurut Yongki, festival yang menampilkan atraksi dan edukasi seni budaya tersebut baru kali pertama digelar. 

Menurut Yongki, festival itu dilatarbelakangi atas keprihatinan kepada generasi muda yang kurang punya perhatian terhadap permaianan tradisional anak-anak. "Anak-anak sekarang jarang memainkan dolanan tradisional, paling ya mainan handphone, game, PS, itu," ujar Yongki. 

Yongki menduga, hal tersebut karena anak belum mengetahui keasyikan memainkan dolanan-dolanan tradisional. "Karena itu kami menggagas festival ini. Tidak sekadar festival yang menampilkan atraksi budaya, tetapi lebih ke arah memberikan edukasi. Jadi bukan kampung wisata budaya, tetapi menjadi kampung edukasi seni dan budaya," tegasnya.