Bupati Malang Dr H Rendra Kresna setelah wawancara mengenai pariwisata di wilayahnya di Jak TV. Rendra menyatakan kekuatan pariwisata kabupaten Malang juga ditopang kuatnya budaya dan local wisdom yang dilestarikan masyarakat. (For MalangTIMES)
Bupati Malang Dr H Rendra Kresna setelah wawancara mengenai pariwisata di wilayahnya di Jak TV. Rendra menyatakan kekuatan pariwisata kabupaten Malang juga ditopang kuatnya budaya dan local wisdom yang dilestarikan masyarakat. (For MalangTIMES)

Moncernya pariwisata Kabupaten Malang di dalam dan luar negeri tidak lepas dari kuatnya masyarakat desa wisata dalam mengamankan local wisdom (kearifan lokal) dan mempertahankan kukuhnya nilai-nilai budaya.

Dua elemen perekat tersebut rentan dikikis perkembangan zaman dan pesatnya teknologi. Namun, di Kabupaten Malang, dua elemen itu masih terus terpelihara oleh masyarakat wisata yang menerapkan konsep pariwisata berbasis masyarakat. "Inilah yang membuat saya bangga dengan masyarakat Kabupaten Malang. Terutama para pemudanya yang begitu kreatif mengolah potensi desanya," kata Dr H Rendra Kresna, bupati Malang, Jumat (17/11).

Rendra melanjutkan, dengan kukuhnya masyarakat wisata, khususnya dalam memegang nilai-nilai arif peninggalan masa lalu yang diwujudkan di masa kini, selain membuat taraf perekonomian meningkat, juga mampu menjadi benteng urbanisasi. Di wilayah lain, desa yang identik dengan segala keterbatasan dan menjadi pemicu urbanisasi para pemuda ke kota besar. Tetapi, dengan adanya program optimalisasi pariwisata berbasis masyarakat dan bertumpu pada budaya dan local wisdom, Kabupaten Malang mampu melahirkan ikon wisata berbeda.

Bupati Malang Rendra Kresna saat berada di acara Partai NasDem. Diberbagai kegiatannya Rendra selalu mempromosikan potensi pariwisata di wilayahnya.

"Budaya dan nilai-nilai lokal ini menjadi daya bagi pariwisata desa. Perlu diketahui bahwa namanya pariwisata bukan hanya menjual keindahan alam saja. Budaya, local wisdom, kuliner dan lainnya juga bisa dikemas jadi wisata, " tegas Rendra.

Bupati Malang kesembilan belas ini mencontohkan dua desa yang wilayah wisatanya diakui nasional dan terpilih menjadi desa wisata terbaik oleh Kementerian Pariwisata RI tidak hanya mengandalkan alam seperti pegunungan, pantai, air terjun dan lainnya. Yaitu Desa Gubuklakah, Kecamatan Poncokusumo, dan Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon.

Dua desa wisata tersebut terbentuk dari keinginan masyarakat sendiri, kreativitas para pemudanya, serta fasilitasi Pemerintahan Kabupaten Malang. "Hasilnya mengagumkan. Desa wisata Pujon Kidul setahun bisa meraup Rp 4 miliar. Hasil ini juga tanpa menghilangkan nilai budaya, adat istiadat dan local wisdom-nya," puji Rendra.

Artinya, walau di tengah gempuran kemajuan zaman dan semakin berubahnya konsep pariwisata ke arah modern, tidak membuat masyarakat wisata di Kabupaten Malang meninggalkan warisan nilai masa lalunya.

Contoh lain desa wisata di Kabupaten Malang yang membuat masyarakat luar kota dan mancanegara penasaran dengan kuatnya masyarakat memegang budaya dan local wisdom-nya dalam industri pariwisata adalah Desa Ngadas, Poncokusumo. Sebuah desa tertinggi di Pulau Jawa yang seluruh sendi kehidupannya masih memegang teguh budaya masa lalu.

Di Ngadas, terang Rendra, budaya Jawa benar-benar terjaga. "Walau masuk sebagai bagian destinasi wisata unggulan nasional, nilai-nilai kehidupan masyarakatnya sampai saat ini berpegang teguh pada budaya dan kearifan lokal," ujarnya.

Itulah yang membuat pariwisata di Kabupaten Malang menjadi semakin moncer di dalam dan luar negeri. "Harmonisasi industri dan nilai leluhur berjalan seiring. Ini kekuatan pariwisata kami," pungkas ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur (Jatim) ini. (*)