Bupati Malang Rendra Kresna dan Wakil Bupati HM Sanusi berpose bersama petugas kesehatan puskesmas setelah acara HKN ke-53 di lapangan luar Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Senin (13/11) (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Bupati Malang Rendra Kresna dan Wakil Bupati HM Sanusi berpose bersama petugas kesehatan puskesmas setelah acara HKN ke-53 di lapangan luar Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Senin (13/11) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

Bupati Malang Dr H Rendra Kresna memberikan kritik sekaligus saran konstruktif dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53 yang diselenggarakan di lapangan luar Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Senin (13/11).

Dalam sambutannya, Bupati Malang kesembilan belas ini menyatakan sampai saat ini ada kesalahan paradigma di masyarakat dalam persoalan kesehatan.

Kesalahan paradigma tersebut adalah mengenai pola kesehatan yang menunggu sakit terlebih dahulu baru berobat. "Paradigma ini yang wajib diubah. Jangan tunggu sakit baru berobat, tapi kembangkan perilaku hidup sehat. Salah satunya rutinkan cek kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan," kata Rendra Kresna kepada seluruh kader kesehatan, bidan, kepala puskesmas serta perwakilan masyarakat se-Kabupaten Malang.

Rendra berharap melalui HKN ke-53 bisa dijadikan momentum berperilaku hidup sehat dalam masyarakat Kabupaten Malang. Dia pun menegaskan jangan sampai berbagai momentum tersebut hanya berhenti di seremonialnya saja.

Bupati Malang Rendra Kresna saat meninjau Ambulance puskesmas dalam HKN ke-53 (Nana)

"Tindaklanjuti berbagai hal ini agar tercipta kesehatan yang merata. Saya tunggu laporannya dari seluruh puskesmas tentang progresnya paling lambat akhir Desember ini," tegas pencetus Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Kabupaten Malang.

Ditanya mengenai progres dan target dalam dunia kesehatan di wilayahnya, Rendra mengatakan sudah cukup bagus dan berjalan sesuai dengan target. Penurunan angka kematian ibu dan bayi, perilaku buang air besar sembarangan dan gizi buruk, telah mengantarkan Kabupaten Malang di kancah provinsi, nasional dan skala ASEAN sebagai salah satu daerah dengan pelayanan kesehatan terbaik.

Kesadaran berperilaku sehat telah mulai membumi. Infrastruktur pelayanan kesehatan juga memadai. "Jadi akses kesehatan kita sudah menjangkau pelosok desa. Puskesmas dan polindes ada semua di 390 desa dan kelurahan. Sekali lagi tinggal paradigmanya yang wajib terus menerus diubah," ujar Rendra yang juga berharap bahwa anggaran kesehatan untuk orang sakit bisa diminimalisir.

Artinya, anggaran pengobatan yang selama ini dialokasikan untuk orang sakit bisa berkurang dan dipakai untuk penunjang anggaran kesehatan lainnya.

"Kalau sudah terbentuk 100 persen kesadaran dan perilaku hidup sehat, maka orang sakit akan semakin berkurang. Kita jangan sampai berkutat terus dalam persoalan ini. Berapapun anggaran akan habis untuk orang sakit kalau tidak tumbuh kesadaran dan perilaku hidup sehat," urai Rendra yang juga mengecek kesiapan mobil ambulan dan jenazah seluruh puskesmas.

Adanya pengurangan anggaran untuk orang sakit bisa dialokasikan pada pembangunan puskesmas pembantu (Pustu) serta penyiapan puskesmas menjadi rumah sakit.

"Jadi saya tegaskan mari dalam HKN ke-53 kita ubah paradigma kesehatan kita semua. Optimalkan seluruh petugas kesehatan dan rangkul sebanyak-banyaknya masyarakat dalam membumikan hal tersebut. Karena kesehatan adalah tanggungjawab kita semua," pungkas Rendra.