Mengenal Sosok Grantika Pujianto, Sutradara Muda Film Manaqib Ulama Blitar | Jatim TIMES

Mengenal Sosok Grantika Pujianto, Sutradara Muda Film Manaqib Ulama Blitar

Oct 28, 2017 19:14
Grantika Pujianto, saat menulis skenario film (Foto: BlitarTIMES)
Grantika Pujianto, saat menulis skenario film (Foto: BlitarTIMES)

Film dokumenter Manaqib Ulama Blitar tengah menjadi perbincangan. Film tersebut bercerita mengenai perjuangan ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan  Republik Indonesia.

Salah satu yang diangkat adalah sosok KH Manshur sang penyepuh bambu runcing yang digunakan sebagai senjata melawan penjajah.

Tak disangka, film ini menuai sukses dan mendapat apresiasi dari kyai dan alim ulama setelah diputar pada peringatan Hari Santri Nasional 2017 di Blitar. BLITARTIMES mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh sosok sutradara film dokumenter Manaqib Ulama Blitar yang tak hanya nyentrik dari gaya keseharian, tapi juga karya-karyanya.

Dialah Grantika Pujianto (25), pemuda kelahiran Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Pemuda penyuka minuman kopi ini mengaku belum lama bergelut di dunia videografi. Menurut dia, film dokumenter Manaqib Ulama Blitar tersebut ia kerjakan sebagai hobi. Sama seperti hobinya yang lain yakni fotografi, traveling dan mendaki gunung.

“Hanya sekedar hobi, namun saya bangga film saya ditonton oleh ribuan orang dan diputar di puncak peringatan hari santri,” kata Grantika kepada BLITARTIMES, Sabtu (28/10/2017).

Sebelumnya Grantika telah membuat beberapa karya film dokumenter dan film pendek diantaranya film dokumenter juga Berjudul Pendakian Gunung Kelud. Selain itu, film pendek berjudul Hasduk yang juga pernah menjadi juara 1  peringatan hari Pramuka 2017 di Blitar. Seluruh karya tersebut ia persembahkan kepada Blitar, tanah kelahirannya.

Prestasi lainnya, Grantika juga pernah menyabet juara 1 lomba Kreasi Teknologi (Krenotek) 2016 di bidang teknologi informasi.

“Saya akan terus mencoba membuat karya khususnya film dokumenter lain yang berhubungan dengan tanah air dan juga sejarah. Karena film dokumenter itu lebih berbicara apa adanya dalam menyampaikan pesan jika dibandingkan dengan film fiksi,” tegasnya.

“Kecintaan saya terhadap film terinspirasi dari sutradara muda Hollywood asal Blitar yakni Livi Zheng. Di mata saya, Mbak Livi merupakan sosok perempuan yang cerdas dan inspiratif,” Grantika menambahkan.

Grantika berkisah, di balik kesuksesan film Manaqib Ulama Blitar ternyata ada banyak kendala dan rintangan pada saat proses pengambilan video. Dalam kondisi tidak memiliki kamera, ia harus mencari pinjaman kesana kemari, drone yang akhirnya jatuh dan rusak.

“Saya dibantu  teman saya Amqa Rasendra untuk pengambilan gambar menggunakan drone, bahkan detik-detik terakhir pengambilan gambar juga dipinjami kamera sama dia. Untuk riset dan penulisan naskah saya dibantu Mahathir Muhammad,” bebernya.

Semangat terus ditunjukkan Grantika dalam memperkenalkan budaya dan sejarah tanah air. Saat ini dia tengah menggarap sebuah film tentang Blitar. Film tersebut akan menampilkan kekayaan budaya dan tempat wisata di Blitar. Menurut dia, keindahan dan keelokannya tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia bahkan luar negeri.(*)

Topik
blitar

Berita Lainnya