Nur Alim Kasun Tenggur Saat Masih Hidup / Foto : Tulungagung TIMES
Nur Alim Kasun Tenggur Saat Masih Hidup / Foto : Tulungagung TIMES

Kabar duka datang dari desa Tenggur Rejotangan Tulungagung, Kepala Dusun Tenggur Nur Alim meninggal dunia setelah masuk angin diwarung kopi. Hal tersebut dibenarkan kepala desa Tenggur Ahmad Samsul, menurut Samsul Sabtu malam jam 23.00 WIB Nur Alim mengeluh tidak enak badan. 

"Sempat di antar pulang oleh warga, kemudian di larikan ke Rumah sakit Madinah Ngunut. Belum lama di rawat, Pak Kasun (Kepala Dusun) Nur Alim meninggal dunia," kata Samsul. 

Sebelum meninggal, tepatnya hari Jumat menurut Kepala Desa, Nur Alim dipanggil Camat Rejotangan untuk mengklarifikasi masalah beras di desanya. 

"Dipanggil hari Jumat bersama Bayan Nanik, mereka mengakui kelebihan 3 karung jatah dalam kupon sehingga ada warga yang memegang kupon tapi beras dinyatakan habis. Mereka ditegur sama pak Camat atas kejadian tersebut," ungkap Samsul. 

Kini Alim telah meninggal dunia, belum diketahui secara pasti penyebab kematiannga. Pemakaman dilaksanakan minggu pagi di pemakaman desa Tenggur. 

Nur Alim adalah perangkat desa Tenggur yang beberapa waktu lalu di protes warga gara-gara ada warga yang mengambil beras sejahtera (rastra) namun dinyatakan habis sehari setelah 3 Kepala Keluarga mendatangi Balaidesa. 

Saat ditemui dirumahnya, Kepala Dusun Tenggur Nur Alim membantah apa yang disampaikan Musani dan sembilan orang warganya terkait alasan tidak di berikannya jatah Rastra (Beras Sejahtera) di desanya, namun mengakui bahwa mereka telat mengambil beras karena jatah yang ada di Balaidesa telah habis. 

"Hitungannya sudah pas sama penerimaan uang, jadi jika yang datang terlambat tidak dapat berarti memang kartu yang diberikan kelebihan, bukan berasnya yang kurang," kata Kasun

Kasun mengatakan jika jatah beras yang di terima di Tenggur dari 78 turun ke 67 penerima dengan jatah per penerima 5 Kilogram atau satu karung beras 15 kilo dibagi menjadi 3 kepala keluarga. 

"Jadi itu yang terjadi, beras yang diterima menyusut tapi penerima justru bertambah, bagaimana cara membaginya? Kadang 1 karung itu kami bagi menjadi 4 Kepala Keluarga," tegasnya. 

Alim mengaku tidak takut masalahnya berujung pada tuntutan pencopotan dirinya dari jabatan Kasun, menurutnya itu hanya politis. Bahkan Alim tidak mau mengganti beras yang dituduhkan dijual atau diberikan pada orang lain. 

"Saya rasa tidak benar jika ada penyelewengan, saya juga tidak mau mengganti wong saya tidak pernah menjual beras. Ini pasti ada unsur politik," tambahnya. 

Alim juga membantah jika dirinya mematikan handphone saat mendapatkan teguran dari kepala desa, menurutnya dirinya selalu menyalakan hp dan tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. 

"Tidak ada, hp saya selalu nyala dan tidak pernah saya di telpon lalu saya matikan," imbuhnya. 

Sementara itu Musani saat di konfirmasi melalui sms membenarkan bahwa Kepala Dusun Nur Alim telah meninggal dunia. 

"Leres niki kulo nembe wangsul takziyah (Benar, ini saya baru pulang takziyah," pungkas Musani singkat.