Danramil Ngunut, Kapten Didik Hariyanto saat jelaskan penghianatan PKi
Danramil Ngunut, Kapten Didik Hariyanto saat jelaskan penghianatan PKi

Tak hanya pelajar, santri di pondok pesantren juga diajak nonton bareng film G30S/PKI. Film yang bercerita tentang kekejaman PKI ini diputar secara serentak di seluruh wilayah Tulungagung atas perintah Panglima TNI, Jendral Gatot Nurmantyo. Kali ini Pondok Pesantren Gunung Jati di Kecamatan Ngunut. Sebanyak 700 santri dengan beralaskan tikar dengan serius menonton film itu. Acara nobar dilakukan di halaman pondok pesantren. 

Pengasuh pondok Pesantren Gunung Jati, K.H Muhammad Ibnu Shodiq Ali menuturkan, pemutaran ini dilakukan atas inisiatifnya. Bak gayung bersambut, keinginan ya diamini oleh Koramil Ngunut.
"Acara nobar ini inisiatif saya, kebetulan pihak Koramil juga menyetujuinya," tuturnya, Sabtu malam (23/9).

Dijelaskan pula, untuk hari Sabtu ini acara nobar dikhususkan untuk santri putra. Berikutnya pada kamis mendatang, giliran santri putri yang akan nonton bareng film ini. Jumlah santri putri setidaknya 1000 santriwati. "Untuk santri putri Kamis depan," imbuhnya.

Sementara itu Danramil Ngunut, Kapten Didik Hariyanto menerangkan tujuan pemutaran film ini. Keganasan dan kekejaman PKI ( Partai Komunis Indonesia ) sudah lama dilupakan sejak tidak.lagi diputar.pada 1998 lalu. Banyak dari pelajar maupun remaja tidak mengetahui sejarah kekejaman PKI.

"Film ini bertujuan untuk mengajarkan dan menunjukan pada santri di Ponpes tentang kekejaman dan keganasan PKI," tuturnya.

K.H Muhammad Ibnu Shodiq Ali berharap, dengan acara ini para santri dan santriwati bisa terbentengi dari pengaruh ideologi komunis. Pasalnya, sekarang banyak pengaruh-pengaruh dari berbagai arah tentang ideologi terlarang itu yang tidak.diketahui generasi sekarang.

"Dengan pemutaran film ini, setidaknya bisa membentengi para santri dari.pengaruh ideologi terlarang itu," harapnya

Seperti diketahui, pemberontakan yang dilakukan oleh PKI telah yang dilakukan pada 1965 silam, telah melakukan penculikan dan pembunuhan pada 6 jendral dan 1 perwira dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang kini telah berganti nama TNI.

Para jendral dan perwira di bunuh dan dimasukan dalam sumur tua di daerah Lubang Buaya. Sebelum dibunuh, para jendral dan perwira itu mengalami berbagai siksaan sadis.