KH Muhammad Hadi Mahfudz saat ditemui di rumahnya, kompleks Pondok Pesantren Al-Hikmah Melathen, Kauman, Kalangbret. / Foto : Tulungagung TIMES
KH Muhammad Hadi Mahfudz saat ditemui di rumahnya, kompleks Pondok Pesantren Al-Hikmah Melathen, Kauman, Kalangbret. / Foto : Tulungagung TIMES

Polres Tulungagung tidak ikut-ikutan menangani kasus kafe yang digerebek karena menampilkan tarian bugil: Yess Cafe. Kapolres Tulungagung AKBP Yong Ferrydjon menyatakan penindakan hukum terkait Yess Cafe sepenuhnya menjadi kewenangan Polda Jawa Timur.

Kapolres menilai masalah yang disampaikan MUI dan Satkorcab Banser Tulungagung terkait penindakan hukum terhadap pemilik usaha Yess Cafe juga merupakan kewenangan polda. "Yang merazia kan polda, yang memproses hukumnya ya polda. Tentang itu (penindakan hukum), ya silakan dikonfirmasi ke polda," ujar kapolres. 

Namun, jika ada pelimpahan kasus dari Polda Jatim, Polres Tulungagung siap menangani proses hukum lanjutan sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Sementara, ditemui di rumahnya, Ketua MUI Tulungagung KH Muhammad Hadi Mahfudz mengapresiasi pencabutan izin operasional Yess Cafe dan terus mendorong upaya tindakan hukum bagi pemilik usaha. "Meskipun yang gerebek itu polda, ini pihak bupati dan polres masih punya kaitan kuat. Misal, okelah bupati yang mencabut izin operasional, nah kepolisian yang menangani proses hukumnya. Kami mendorong itu," kata Gus Hadi, panggilan ketua MUI Tulungagung. 

Gus Hadi juga menjelaskan alasan mengapa pihaknya tetap mendorong proses hukum dan menindak pengusaha Yess Cafe. "Mohon maaf jika statemen saya ini kurang tepat. Selama ini berkembang di masyarakat bahwa semua bisa masuk wilayah pethung (berunding). Pethung di bawah meja, di balik layar yang menganggap semua masalah bisa selesai. Janganlah ini menjadi hukum adat," tandasnya. 

Gus Hadi berharap pemerintah kabupaten dan kepolisian bergerak sesuai dengan aturan. Menurut dia, negara tidak kekurangan undang-undang dan aturan untuk penegakan hukum. Hanya butuh komitmen dalam penegakan aturan dan hukum itu sendiri. (*)