Petani Soso saat gelar aksi damai di Perempatan Lovi (Foto: Aunur Rofiq/ BlitarTIMES)
Petani Soso saat gelar aksi damai di Perempatan Lovi (Foto: Aunur Rofiq/ BlitarTIMES)

 Ratusan petani Blitar yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Petani Blitar Raya (Gempita) menggelar aksi damai di perempatan Lovi Kota Blitar, Kamis (9/3/2017).

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan, petani mengutuk keras keterlibatan oknum militer dalam penyelesaian konflik agraria antara petani penggarap lahan dengan eks perkebunan PT. Kismohandayani di Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.

"Konflik agraria sudah sepatutnya diselesaikan dengan cara yang damai, transparan, sesuai supremasi hukum, demokratis dan menjunjung hak asasi manusia. Serta yang terpenting adalah jangan tajam ke bawah tapi tumpul ke atas," tegas koordinator aksi, Muhammad Triyanto. 

Dijelaskannya, ada oknum yang mengaku anggota militer melakukan campur tangan penyelesaian konflik agraria eks perkebunan PT. Kismohandayani. Oknum ini juga melakukan ancamam dan intimidasi kepada petani agar mengosongkan lahan yang mereka tanami. 

“Jika tidak maka lahan yang dimanfaatkan petani penggarap dengan berbagai jenis tanaman tersebut akan dibabat secara paksa. Pihak perkebunan sendiri memberi waktu bagi para petani untuk mengosongkan lahan paling lambat 9 Maret hari ini,” jelasnya.

Padahal kata Triyanto, saat ini hak guna usaha (HGU) PT. Kismohandayani sudah habis pada 2010 lalu. Begitu pula kasus dugaan korupsi PT Kismohandayani saat ini juga masih bergulir di Kejaksaan Negeri Blitar.

“Seharusnya HGU yang diblokir tersebut menjadi hak negara, dan mereka sudah tidak berhak melakukan tindakan memaksa petani untuk mengosongkan lahan garapan,” tandasnya.(*)