Rasuki menunjukkan rumah bambu buatannya (Foto: Widie Nurmahmudy/ BanyuwangiTIMES)
Rasuki menunjukkan rumah bambu buatannya (Foto: Widie Nurmahmudy/ BanyuwangiTIMES)

Siapa bilang membangun rumah unik dan klasik membutuhkan biaya selangit.

Di Banyuwangi sudah ada pembuat rumah, villa, balai bengong dan tempat hangout yang asyik dengan berbahan utama bambu. Namanya adalah ‘Bambu Karya Utama’ yang ada di Krajan Desa Bajulmati Wongsorejo.  

Meskipun awalnya kerajinan bambu hanya diminati masyarakat di daerah pelosok, namun seiring dengan maraknya isu global warming di lingkungan masyarakat dunia, kini banyak orang yang tertarik menggunakan produk-produk ramah lingkungan untuk kehidupan sehari-hari mereka. Maka tidak heran bila permintaan pasar kerajinan bambu kini semakin melonjak bahkan tidak hanya menjangkau kota-kota besar saja, tetapi juga sampai tembus pasar mancanegara.

Saat ini para pengrajin bambu tidak hanya memproduksi aneka kerajinan untuk penghias ruangan saja, mereka mulai menciptakan inovasi baru kerajinan bambu yang lebih fungsional. Seperti rumah bambu misalnya.  Dengan konsep "back to nature" rumah bambu  menjadi pilihan berkelas tinggi dikarenakan bahan tersebut memiliki elastisitas yang tinggi sehingga tahan terhadap getaran gempa. Rumah bambu bisa dijadikan rumah idaman yang eksotis dan eksklusif.

Adalah Rasuki (50) seorang pengrajin rumah bambu yang sudah menekuninya sejak tahun 2007 lalu. Pria yang sejak masa mudanya bergelut dengan bambu, pada akhirnya mendapat berkah dengan membuat tempat-tempat berteduh seperti rumah, villa, balai bengong dan tempat-tempat bergaya klasik lainnya yang terbuat dari bambu.

“Dulu saya mengambil bambu hanya untuk kerajinan anyaman. Sekarang, setelah beberapa kali belajar membuat rumah, balai bengong dan villa, saya akhirnya membuat nama usaha sendiri,” kata Rasuki pemilik usaha jasa pembangunan rumah bambu saat ditemui BanyuwangiTIMES di Grand Watu Dodol tempatnya bekerja saat ini.

Rasuki mengaku, setiap tipe rumah yang dibuatnya memiliki harga yang berbeda. Selain itu, semua bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan rumah tersebut seluruhnya dari Rasuki. Baik itu bambu, ijuk, tali rotan dan sebagainya.

Bambu petung dan bambu hitam serta tutul, memang salah satu jenis incaran Rasuki yang saat ini terbilang langka di petani bambu. Jenis bambu ini, kata Rasuki, minimal bisa ditebang pada usia 5 tahun dengan pemupukan 3-4 kali setahun. Dan untuk mendapatkan bahan dengan kwalitas yang baik, Rasuki biasanya akan memesan bahan bambu yang bagus tersebut hingga ke wilayah lain, seperti Bondowoso dan Situbondo.

“Bagi konsumen hanya menyiapkan lahannya saja. Bahan semua dari kami.” Jelas pria yang saat ini sedang membuat rumah bambu di objek wisata tersebut.

Untuk harga sendiri, kata Rasuki sangat terjangkau dan bervariasi, tergantung ukuran luas dan juga tipe rumah yang akan dibuat.

“Kalau harga bervariasi. Paling murah itu 2 juta rupiah. Ada juga yang mahal, bisa 70 juta rupiah. Bahkan saya pernah menggarap villa dengan budget 114 juta rupiah,” ucap pria yang dibantu oleh empat tenaga kerja tersebut.