Tampak Pesawat TransNusa yang Tabrakan dengan Batik Air di Halim. (Foto: tribunnews)
Tampak Pesawat TransNusa yang Tabrakan dengan Batik Air di Halim. (Foto: tribunnews)

Pesawat Batik Air dengan rute Halim Perdanakusuma - Ujung Pandang, bersenggolan dengan pesawat Transnusa, sesaat sebelum lepas landas di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Senin (4/4/2016) malam.

Akibat kejadian ini, sayap pesawat Batik Air jenis Boeing 737-800 itu patah dan terbakar. Begitu juga dengan sayap dan ekor pesawat jenis ATR milik Transnusa yang juga hancur. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Yang menjadi pertanyaan, Bukankah pilot harus mengambil posisi yang aman sebelum take off? Selain itu, bukankah ada petugas Air Traffic Control (ATC) yang mengawasi setiap gerak gerik pesawat.

Petugas ATC memantau monitor traffic penerbangan. Mereka juga memandu pesawat apabila ingin menyimpang, naik, atau turun. Demi mengemban tanggungjawab yang berat ini, konon, petugas ATC diberi gaji hingga 20-an juta rupiah.

Para petugas ATC inilah yang mengatur lalu lintas pesawat. Lantas, jika sebelum take off sudah diberi 'arahan' oleh ATC, mengapa masih terjadi tabrakan?

Direktur Utama Lion Air Group Edward Sirait di Jakarta, mengatakan pesawat Batik Air sudah "di-release" untuk lepas landas oleh menara pengawas (ATC). Atas "release" ATC inilah, Pilot mengambil posisi siap take off.

Namun nahas, posisi Batik Air belum menjauh dari pesawat TransNusa yang saat itu sedang ditarik oleh traktor (dalam proses pemindahan). Yang aneh juga, pilot atau ATC seperti tidak mendeteksi ada pesawat TransNusa yang posisinya ada di landasan pacu. Kedua pesawat inipun tabrakan.

"Karena hal itu Pilot in Command, memutuskan untuk membatalkan take off (aborted take off) untuk memastikan keselamatan penumpang," kata Edward.

Saat ini, kotak hitam (black box) kedua pesawat telah diangkat dana sedang diteliti oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). (*)