Foto dan ilustrasi: cowas.com

Foto dan ilustrasi: cowas.com


Editor


Catatan Politik Arif Afandi  6

PRABOWO Subianto Djojohadikusumo salah satu jenderal the rising star di zaman pemerintahan Orde Baru. Namun, sinar bintang itu tidak terus menempel pada dirinya setelah era reformasi. Beberapa kali kalah dalam pemilihan presiden dan wakil presiden. Juga tersingkir  dari Partai Golkar, partai tempat ia berkarir politik.

Saya tidak begitu banyak mengenal jenderal purnawirawan, pendiri dan Ketua Umum Partai Gerindra ini. Kecuali saya sering mendengar namanya disebut-sebut dalam diskusi terbatas di PPSK (Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan) Jogjakarta, lembaga yang didirikan ahli politik yang kemudian menjadi politisi M. Amien Rais dan kawan-kawan. 

Lembaga ini mewakili semangat pembaharuan sejumlah cendikiawan terkemuka Indonesia. Selain Amien Rais, sosok cendikia yang menjadi symbol PPSK aadalah Soedjatmoko dan Kuntowijoyo. Dari lembaga ini juga lahir sejumlah tokoh yang kemudian dikenal sebagai tokoh ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), cikal-bakal sayap politik Islam. 

prabowo-satu-jatumI1yZO.jpgFoto: merdeka

Di lembaga kajian yang amat terkenal menjelang reformasi itu, Prabowo menjadi patron karena dianggap jenderal dengan kekuasaan yang membela kelompok Islam. Ia dianggap tokoh di lingkar kekuasaan yang menjembatani kepentingan-kepentingan kelompok muslim. Di era Pak Harto, kelompok muslim masih dianggap pinggiran.

Kalau sekarang ada hubungan khusus antara Amien Rais dan Prabowo, itu memang ada sejarah panjangnya. Yakni sejak pemerintahan Orde Baru. Sosok Prabowo pada saat itu menjadi sangat penting karena selain the rising star di militer, ia juga menantu Pak Harto. Ia pisah dengan putri penguasa Orde Baru itu, Titik Soeharto, setelah terjadi reformasi politik.

Prabowo hadir di dunia sudah ditakdirkan menjadi orang penting. Ia lahir sebagai bangsawan. Ayahnya, Raden Mas Soemitro Djojohadikusumo, ekonom yang menjabat sebagai menteri keuangan dan Menperindag di pemerintahan Bung Karno. Ia juga menjadi menteri Riset di awal pemerintahan Soeharto.

Kakeknya Prabowo, Raden Mas Margono Djojohadikusumo juga bangsawan besar yang berjasa untuk negeri ini. Ia adalah pendiri Bank Negara Indonesia (BNI). Juga anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pertama. 

prabowo-ok-jatimkYQrd.jpgFoto: jpnn

Kenapa pria bangsawan dan putra begawan ekonom Indonesia ini memilih berkarir di militer?

Tampaknya ia sangat terpengaruh oleh figur pamannya yang gugur dalam pertempuran Lengkong 1946. Namanya Soebianto Djojohadikusumo. Pertempuran Lengkong terjadi saat Tentara Republik Indonesia (TRI) melucuti senjata tentara Jepang. Dalam peristiwa tersebut, selain paman Prabowo, juga gugur Daan Mogot, dan Letnan Soetopo. 

Ternyata, pilihan Prabowo tidaklah salah. Masuk Akabri tahun 1970. Ia seangkatan dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Hanya saja, jenderal yang suka berkuda ini lulus lebih lambat satu tahun dibanding kawannya seangkatan. SBY lulus tahun 1973, Prabowo 1974.

Meski telat setahun, saat berkarir di militer ia tak kalah melesat dengan yang lain. Hanya dalam waktu yang singkat ia menjadi jenderal. Puncaknya, ia pernah menduduki jabatan sebagai Danjen Kopassus. Juga sempat menjadi Kepala Kostrad. Semua itu jabatan sangat bergengsi di militer di jaman Orde Baru.

prabowo-satu-jatmIXWG3.jpgFoto: Viva

Latar belakang keluarganya sempat membuat ia hampir tidak diterima masuk AKABRI. Ayahnya Prabowo dikenal sebagai tokoh PSI, partai politik jaman Orde Lama yang pernah dituduh berada di balik pemberotakan PRRI, 1957-1958. Bahkan, Soemitro Djojohadikusumo sempat harus hidup di luar negeri karena itu. 

Namun, setelah lolos, karir militer Prabowo bisa disebut melesat bak meteor. Betapa tidak. Dalam 24 tahun berkarir di tentara, ia sudah menduduki posisi puncak. Hanya dua tahun setelah lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata RI, ia sudah menjadi komandan peleton Para Komando GrupI

Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopasanda). Nyaris hampir setiap dua tahun promosi jabatan.

Karirnya yang melesat dan statusnya sebagai menantu Pak Harto, membuat ia sosok kontroversial di militer. Rivalitas dengan para jenderal lainnya yang lebih senior pun tak terelakkan. Yang menonjol adalah dengan Jenderal Wiranto, Panglima ABRI di masa-masa akhir pemerintahan Orde Baru.

Bahkan, Prabowo sempat dituduh akan menggalang kudeta pada masa itu. Perselisihan terbuka terjadi pada saat pengajuan Mayjen Suwisma sebagai calon Danjen Kopassus.

Seperti diceritakan Sintong Panjaitan dalam bukunya Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, Prabowo menolak calon yang diajukan Wanjakti dan sudah disetujui Wiranto ini. Prabowo melambung. Menyampaikan penolakannya langsung ke Pak Harto.

prabowo-tiga-jatimYdXBE.jpgFoto tempo

Mengapa Prabowo menolak Suwisma? Kepada Pak Harto, ia menyampiakan bahwa Suwisma beragama Hindu. Padahal sebagian besar anggota Kopassus beragama Islam. Pak Harto akhirnya lebih mendengar Prabowo. Suwisma gagal menjadi Danjen Kopassus. Dipilihlah Muhdi PR yang dikenal sebagai kawan dekat Prabowo.

Sebagai seorang menantu yang jenderal, Prabowo juga sempat disebut-sebut sebagai putra mahkota Soeharto. Ia bersaing dengan iparnya, Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Di episode terakhir pemerintahan Pak Harto, Tutut lebih dekat dengan Gus Dur, pemimpin Islam tradisional. Sedangkan Prabowo lebih dekat dengan Amien Rais.

Dalam sejarah ketentaraannya, kisah kepemimpinannnya selalu menyertainya. Salah seorang temannya, Letnan Jenderal (Punr) Yunus Yosfiah menceritakan, Prabowo sering mendapat tugas negara ke daerah operasi karena kammpuannya. Bukan karena minta atau karena doyan ke daerah operasi.

Prabowo yang dalam panggilan radio komunikasi dikenal dengan sebutan kancil ini selalu di garda depan bersama serdadunya. Ini terjadi saat ia berhasil membebaskan para peneliti yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua dan operasi mengejar Fretelin di Timor Timur. Bahkan, ia bersama anak buahnya sempat seminggu hanya makan rebung dan singkong karena berada di daerah rawan.

Jenderal yang suka membawa buku ekonomi saat bertugas di daerah operasi ini juga seorang pemimpin yang penuh perhatian kepada anak buahnya. Ia dikenal sebagai Danjen Kopassus yang berhasil meningkatkan kesejahteraan prajurit para komando itu. Ia pun yang memekarkan Kopassus dari tiga grup menjadi lima grup. Karena itu pula ia naik pangkat menjadi Mayor Jenderal. 

Berbagai kisah keunggulan Prabowo sebagai prajurit ini seiring dengan rumor negative yang selalu menyertai karirnya. Ia sempat diisukan akan mengkudeta BJ Habibie setelah Pak Harto lengser. Ia sempat dituduh menodongkan senjata ke presiden ketiga RI tersebut. Juga sempat dituduh mengerahkan pasukan mengepung istana.

Tidak hanya itu. Ia juga dirumorkan sebagai dalang penculikan sejumlah aktifis mahasiswa saat marak gerakan reformasi. Sebagai seorang jenderal, ia dituduh menggerakkan kerusuhan massa di saat-saat pelengseran Pak Harto tahun 1998. Jadilah, Prabowo sang the rising star tersingkir dalam karir militernya bersamaan dengan perubahan politik saat itu. Ia diadili secara militer dan dipecat dari ABRI.

‘’Saya sudah buktikan komitmen saya kepada konstitusi. Saya kira saya satu-satunya yang membuktikan diri pada UUD. Kalau saudara ingat pada 1998, saya 34 batalion. Dari segi kekuatan fisik, saya yang terkuat di Indonesia. Saya sempat dituduh mau kudeta. Dan saya diberhentikan oleh presiden. Dan saya ikuti perintah presiden tanpa perlawanan,’’ katanya kepada Tempo.

prabowo-enam-jatimZ0hut.jpgFoto: merdeka

Ia juga mengakui bahwa saat itu bisa melakukan apa saja dan perintahnya akan dituruti prajuritnya. ‘’Saya tahu, banyak di antara prajurit saya akan melakukan apa yang saya perintahkan. Tetapi saya tidak mau mereka mati berjuang demi jabatan saya. Saya ingin menunjukkan bahwa saya menempatkan kebaikan bagi negeri saya dan rakyat di atas posisi saya sendiri. Saya adalah seorang prajurit yang setia. Setia kepada negara, setia kepada republik,’’ tegas Prabowo. 

Lengsernya Pak Harto juga berdampak kepada hubungan kekeluargaannya. Ia terpaksa harus bercerai dengan Titik Soeharto. Prabowo lantas ‘’mengasingkan diri’’ dengan tinggal dan berbisnis di Yordania. Kebetulan ia berkawan dengan Raja Abdullah. Persahabatan itu terjalin saat keduanya sama-sama menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat.

Lepas dari karir militernya, ia mengembangkan bakat dagangnya. Ia pun menjadi pengusaha dan mengembangkan bisnisnya di Yordania. Di Indonesia, ia mulai dengan mengambil alih Kiani Kertas, perusahaan pengelola pabrik kertas yang berlokasi di Mangkajang, Kalimantan Timur. Ia membeli Kiani dari Bob Hasan dengan menggunakan pinjaman bank senilai Rp 1,8 Triliun.

Ia pun kemudian mengembangkan sayap bisnisnya sampai memimpin 27 perusahaan di Indonesia dan luar negeri. Selain kertas, bisnisnya bergerak di bidang produksi kelapa sawit, migas, pertambangan, pertanian, pulp, dan pertanian. Dari berbagai bisnisnya itulah ia mengembangkan kekayaannya.

prabowo-baret-jatimtLnyF.jpgFoto: merdeka

Berbekal kekayaan dan sejarah karir militernya, ia pun kemudian menerjuni dunia politik. Ia memulai debut politiknya dengan mengikuti konvensi calon presiden Partai Golkar, 2004. Meski ia lolos sampai putaran terakhir, namun ia kandas setelah dikalahkan rival lamanya Wiranto. Maka Wirantolah yang menjadi calon presiden Partai Golkar dan berakhir kalah dalam pemilihan presiden. Pada saat itu, justru teman seangkatan Prabowo di Akabri yang terpilih menjadi presiden: Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejak sata itu, Prabowo terus bergeliat di politik. Ia memperkuat akar politiknya dengan menjadi Ketua Padagang Pasar Tradisional Indonesia. Juga menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukuran Tani Indonesia (HKTI). Di luar itu, ia memegang kendali berbagai asosiasi seperti Asosiasi Petani Indonesia dan Asosiasi Pencak Silat Indonesia.

Gagal maju menjadi calon presiden Partai Golkar, ia pun kemudian mendirikan Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya), 6 Februari 2008. Ia tidak langsung memegang kendali sebagai Ketua Umum. Tapi menjadi Ketua Dewan Pembina. Namun demikian, dialah sebenarnya Ketua Umum Defacto karena hampir semua kebijakan partai dia tentukan.

prabowo-lima-jatimlwC3R.jpgFoto: viva

Sebagai politisi, Prabowo tergolong tipe petarung. Gagal menjadi calon presiden 2004, ia pun kembali berusaha meraih keberuntungan politik dalam pilpres 2009. Melalui Gerindra, ia menggandeng PDI Perjuangan dan berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri. Konon, ia rela menjadi wakilnya dengan perjanjian akan didukung menjadi presiden pada periode berikutnya.

Namun, pasangan Megawati-Prabowo ini pun kalah dengan pasangan SBY-Budiono. Akankah perjanjian itu untuk mendukung dalam pilpres berikutnya masih berlaku? Yang pasti, dalam pilpres 2014, Prabowo maju menjadi capres berpasangan dengan Hatta Rajasa. Ia berhadapan dengan pasangan Joko Widodo-Yusuf Kalla. 

Dalam kondisi head to head dengan capres yang diusung PDI Perjuangan ini, Prabowo kembali tidak beruntung. Ia kalah dengan seorang capres yang mantan walikota Solo dan Gubernur DKI. Pertarungan politik kali ini menjadikan ia gagal kembali menjadi orang pertama di RI.

prabowo-empat-jatimqmlnU.jpgFoto: istimewa

Mengapa politisi bangsawan yang sempat menjadi the Rising Star di militer di zaman pemerintahan Soeharto ini terus mengalami kekalahan dalam pertarungan politik di era reformasi? Jawaban sederhananya mungkin karena garis tangan. Tapi, yang pasti tidak akan mudah menjadi Prabowo. Ia tetap akan menyandang warisan citra politik yang kurang baik dari Pak Harto.

Akankah dia bisa bangkit kembali dalam pertarungan politik di masa depan? Rasanya akan menjadi lebih sulit secara personal. Namun, Partai Gerindra barangkali masih punya peluang merebut momentum politik menjadi partai yang lebih besar lagi. Ia bisa mendapat limpahan suara pendukung Partai Golkar yang konflik berkepanjangan. 

Yang pasti, politik itu adalah seni dari segala kemungkinan. Kita tunggu saja episode selanjutnya!


End of content

No more pages to load