Kasat Reskrim Polres Jember, AKP Agus I Supriyatno (tengah) saat menggelar pers rilis pengungkapan kasus tewasnya siswi SMK di Jember. Sementara tersangka (kanan bertopeng) adalah teman satu sekolah yang menjalin hubungan asmara dengan korban. (Foto: Mahr
Kasat Reskrim Polres Jember, AKP Agus I Supriyatno (tengah) saat menggelar pers rilis pengungkapan kasus tewasnya siswi SMK di Jember. Sementara tersangka (kanan bertopeng) adalah teman satu sekolah yang menjalin hubungan asmara dengan korban. (Foto: Mahr

Cemburu menjadi motif pelaku tega menghabisi nyawa kekasihnya. Tersangka gelap mata setelah bertengkar hebat karena ponsel korban menerima pesan singkat dari lelaki teman sekelas korban. 

"Awalnya korban dijemput tersangka di tempat bimbel, kemudian diajak jalan-jalan ke area persawahan. Setelah cekcok disitulah keinginan tersangka membunuh korban muncul," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jember, Ajun Komisaris Polisi Agus I Supriyanto, Minggu (28/2/2016) di mapolres setempat. 

Menurut dia, setelah cekcok hebat itu tersangka emosi dan menghabisi nyawa korban dengan cara menenggelamkannya di sawah yang penuh air. Sehingga korban tewas karena kehabisan nafas. 

"Tersangka mengaku melaksanakan perbuatan tersebut sendiri. Murni karena cemburu dengan sms yang masuk (di ponsel korban)," ujarnya. 

Sebelumnya, menurut Staf Desa Rambigundam, Sutrisno, semula tersanga sempat diajak pihak desa dan keluarga untuk mencari korban.

Bahkan tersangka yang masih kekasih korban ini sempat menangis di sekolah, ketika mengetahui pacarnya tersebut tak ditemukan. 

"Saya sempat terharu melihatnya," kata Sutrisno, kemarin.

Belakangan tersangka mengakui, jika dia yang menghabisi nyawa korban setelah polisi mencurigai keberadaan sandal gunung yang letaknya berada di sisi jasad korban ditemukan. 

Saat dicocokkan dengan kaki korban, sandal itu terlalu besar. Apalagi, saat tersangka ditanya oleh polisi perihal jam tangannya yang terdapat noda lumpur, tersangka tak bisa menjelaskan, sehingga dia mengakui jika dirinyalah yang membunuh korban dengan cara membenamkan wajah korban ke area sawah yang penuh air. (*)