Material batu dan pasir langka, pembangunan warga banyak terhenti (Foto: Syarif/ Banyuwangitimes)
Material batu dan pasir langka, pembangunan warga banyak terhenti (Foto: Syarif/ Banyuwangitimes)

Pasca penertiban galian C tak berizin, terjadi kelangkaan material pasir dan batu di Banyuwangi. Akibatnya, banyak warga mengeluh. Pembangunan yang sedang mereka lakukan terpaksa terhenti, lantaran material sulit dicari.

Seperti yang dialami Irul Hamdani, warga Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Pembangunan rumah yang dilakukan sejak awal Januari lalu terpaksa berhenti di tengah jalan. Batu dan pasir yang dia butuhkan untuk segera merampungkan tempat tinggalnya sukar didapat.

“Sekali kita dapat batu dan pasir harganya selangit, jauh lebih mahal dari sebelumnya,” katanya, Jumat malam (5/2/2016).

Sebelumnya, satu bak dumptruck bisa dibeli dengan harga 400 ribu rupiah saja. Itu sudah diantar sampai lokasi. Tapi sekarang, harga pasirnya saja sudah diangka 500 ribu rupiah. Dan biaya antar bisa sampai 300 ribu rupiah.

“Alasan pedagang, pasir didapat dari tambang pasir yang masih buka, yakni milik Michael Edy Hariyanto. Lokasinya jauh dari sini dan penambangan tidak pakai solar subsidi, jadi semuanya mahal,” cetus Irul.

Dari kejadian ini, dia bersama warga lainnya berharap pemerintah segera mengeluarkan kebijakan strategis. Karena, dikhawatirkan bisa memunculkan praktik monopoli perdagangan material batu dan pasir yang berujung pada permainan harga.

“Dan yang pasti kita para masyarakat ini yang akan dirugikan. Bayangkan, biasanya bisa dapat dua dumptruck sekarang hanya dapat satu, itupun barangnya langka,” pungkasnya. (*)