Gedung KPK (Foto: rmol)
Gedung KPK (Foto: rmol)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku telah berhasil menjangkau 1.000 perempuan antikorupsi di Malang.

Kampanye antikorupsi tersebut dilakukan oleh 50 agen Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK). Mereka berkampanye melalui beragam media seperti brosur, buku, film dan film animasi.

"Agen SPAK telah dilatih Agustus lalu," kata juru bicara KPK, Yuyuk Andrianti Iskak, saat evaluasi SPAK di Hotel Harris Malang, Jumat (29/1/2016).

Menurut Yuyuk, Agen SPAK juga bisa mengembangkan metode kampanye dan sosialisasi.

"Agen berasal dari beragam latar belakang seperti aktivis perempuan, 
pegiat sosial, dosen, guru dan mahasiswi. Mereka melakukan sosialisasi mulai dari keluarga, anak, teman dan tetangga."

Sosialisasi katanya, tekah dilakukan di 34 Provinsi, tahun lalu 15 Provinsi. Tahun ini ditargetkan menjangkau 1 juta perempuan.

Adapun gerakan antikorupsi, di mulai dari perempuan karena sosok ibu yang selama ini paling dekat dengan anak.

Sementara survei KPK empat tahun lalu, menunjukkan hanya empat persen keluarga yang mendidik dan menanamkan nilai kejujuran.

Pendidikan antikorupsi dimulai dengan kejadian di sekitar seperti berlaku jujur, tidak mencontek dan disiplin berlalu lintas.

Sosialisasi antikorupsi diselenggarakan KPK bekerjasama dengan 
Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ).

Sementara itu, menurut Senior Manajer AIPJ, Judhi Kristantini, menjelaskan bahwa dampak dari sosialisasi ini akan dirasakan 10 kedepan.

"Mulai dari anak-anak, generasi kedepan akan mewariskan sikap antikorupsi," ujar Judhi.

Sementara dampak kampanye di Malang mulai dirasakan, sejumlah dosen di Malang menolak bingkisan dari mahasiswa yang dibimbing skripsinya. Tidak menggelembungkan biaya perjalan dinas.

Selain itu juga berdampak positif terhadap anak-anak. Contohnya 
pelajar di Makassar menolak dijemput dan diantar dengan kendaraan dinas Bapaknya. Serta menolak melakukan berbagai perilaku koruptif lainnya.(*)