Ilustrasi (Foto: liputan6)

Ilustrasi (Foto: liputan6)


Editor


Kisruh Perusda Banongan Situbondo

JATIMTIMES, SITUBONDO - Merosotnya produksi dan laba Perusahaan Daerah (Perusda) Banongan, Situbondo sulit diklarifikasi karena pihak managemen perusahaan sangat tertutup sehingga makin mempersulit celah transparansi keuangan.

Menurut sumber TIMESINDONESIA, merosotnya kinerja Perusda Banongan karena akibat banyaknya tindakan yang tidak sesuai prosedur. Misalnya, penunjukkan langsung pengadaan barang dan pembelian bibit yang tidak sesuai kebutuhan.

 “Seperti lelang barang, siapa yang beli dan dapat berapa, tidak ada yang tahu. Ya hanya orang-orang dalam itu saja,” ungkap seorang sumber TIMESINDONESIA.

“Seharusnya yang dibeli adalah bibit unggul, yang punya vareitas bagus, tapi perusahaan membeli bibit lokal. Ini jelas berpengaruh terhadap produksi. Pemupukan juga mengalami hal serupa. Beberapa lahan yang telah ditanami banyak yang tidak diberikan pupuk. Padahal anggarannya ada,” imbuh sumber TIMESINDONESIA yang dulu bekerja dibagian Badan Pengawas Perusahaan,

Padahal, lanjutnya, sebagai perusahaan yang bergerak pada sektor perkebunan lahan yang dimiliki Perusda Banongan cukup luas, yakni 262 hektar. Dari situ seharusnya kemerosotan laba seharusnya tidak boleh terjadi.

Sumber menyebutkan, Perusda Banongan pada tahun 2012 mendapat gelontoran dana sebesar Rp 5,8 miliar. Kala itu, keuntungan per hektar mampu menembus angka Rp 8 juta.Dari total keseluruhan lahan, bisa mengasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 4,9 miliar. Namun anehnya, memasuki tahun 2015, laba Perusda Banongan, hanya Rp 1,2 juta.

Kondisi tersebut membuat Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Situbondo kaget dan mempertanyakan kinerja Direktur Barongan. Bahkan pada Juli tahun 2014 lalu, seluruh fraksi DPRD telah meminta Direktur Perusda Banongan untuk mundur, namun hingga saat ini tak juga dilakukan. (*)


End of content

No more pages to load