Mila bersama model yang menggunakan baju hasil rancangannya. (Foto: Istimewa)
Mila bersama model yang menggunakan baju hasil rancangannya. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES, MADURA - Kebanyakan orang menilai limbah bangunan cukup masuk tong sampah dan kemudian dibuang atau dibakar begitu saja. Namun tidak bagi gadis asal Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Jamilatus Sakdiyah ini. 

Mila-panggilan Jamilatus Sakdiyah-mengolah sampah bangunan menjadi rancangan busana yang bernilai ekonomi. Hasil rancangan Mila, masuk dalam kategori Best Daily Wear, dalam gelaran Fashion Show, Institut Tekhnologi 10 November Surabaya Expo 2015. Jumat (23/10/15) lalu.

Gadis yang baru menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri Malang jurusan Bilologi ini menuturkan, limbah konstruksi seperti, karung pasir, karung semen anti air, kabel bekas, pipa bekas, serbuk sama serutan kayu, diolah dan didesain menjadi baju yang rapi, indah, nyaman, dan bernilai ekonomis. 

"Saya terinspirasi pakaian suku Dayak di Ambon yang menggunakan berbagai bahan alamiah. Saya ambil beberapa limbah konstruksi yang bisa dijadikan fashion," ujarnya, Rabu (28/10/2015).

Karya tangannya itu, menyedot perhatian pengunjung dan juri dalam pagelaran fashion show kemarin. Bahkan model-model profesional mengaku nyaman dan tertarik memakainya. Hasil rancangannya, mengalahkan beberapa desainer lama yang sudah sering tampil di berbagai even. 

"Jerih payah saya terbayar meskipun harus bersaing dengan desainer papan atas di Jawa Timur," terang gadis yang hidup di keluarga miskin ini. 

Dalam fashion show, Mila mengusung tema eksistensi budaya Indonesia. Ia mempresentasikan bahwa baju rancangannya merupakan pengolahan ide Suku Dayak yang ingin dihadirkan ke dalam dunia fashion modern, sehingga para perancang busana bisa mengeksplorasi kekayaan alam dan budaya Indonesia. (*)