Komandan Kodim (Dandim) 0812/ Lamongan Letkol Inf Jemz Andre. R.E,S.Sos (kiri) saat beri pengarahan ke anggotanya (foto : Ardiyanto/lamongantimes)
Komandan Kodim (Dandim) 0812/ Lamongan Letkol Inf Jemz Andre. R.E,S.Sos (kiri) saat beri pengarahan ke anggotanya (foto : Ardiyanto/lamongantimes)

JATIMTIMES, LAMONGAN - Upaya Kodim 0812/ Lamongan untuk membantu pengadaan beras terhalang beberapa kendala, mulai dari harga dan prosedur ketat yang diterapkan Bulog.

Komandan Kodim (Dandim) 0812 Lamongan Letkol Inf Jemz Andre mengatakan, ada perbedaan signifikan antara daya beli Bulog dan daya beli pasar. "Beras premium berkisar antara Rp 8.150 hingga 8.400 yang diambil oleh Bulog, tetapi dipasaran luar bisa melebihi harga Rp 8.500 sampai Rp 9 ribu," ungkapnya.

Sehingga, sambung Jemz Andre, petani lebih memilih untuk menjual ke pasar ketimbang ke Bulog. "Ini menjadi pertimbangan petani menjual ke Bulog," kata dia.

Padahal, Jemz Andre, berharap dengan Bulog membeli gabah petani, sehingga kehidupan petani bisa lebih sejahtera. "Kita punya keinginan, tapi bulog menentukan harga rendah. Keinginan kita bulog bida membantu menguntungkan petani," harapnya.

Walau begitu, pihaknya tetap mengajak semua petani dan pengusaha penggilingan padi ikut dalam pengadaan. Kodim akan menjaga penjualan gabah petani ke Perum Bulog. Dengan pengawal tersebut diharapkan, petani bisa mendapatkan harga yang layak.

"Kita tidak patah semangat tetap menghimbau paling tidak 1/2 atau 50 persen di penggilingan padi sedapat mungkin membantu Bulog untuk penyerapan beras," terangnya.

Persoalan lainnya, kesiapan gudang Bulog untuk menyerap gabah sesuai dengan target sub divre sebanyak 50 ribu ton dipertanyakan oleh pihaknya. "Gudang Bulog masih terisi beras raskin," ujarnya.

Tak hanya itu, Bulog juga menerapkan prosedur ketat terkait dengan beras premiun yang dapat diterima Bulog.

"Yang nantinya para petani memilih ke pasar lokal, dengan alasan bahwa biaya operasional dengan kriteria kadar air di bawah 14 persen, broken dibawah 15 persen dan menir 1 persen itu menyulitkan bagi mereka untuk mendapatkan dengan kualitasnya tinggi," bebernya.

"Jadi semua ini tergantung Bulog sendiri sampai sejauh mana pihak bulog untuk memenuhi kualitas dan kapasitas gudang, ini tergantung kesiapan gudang," pungkasnya. (*)