Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (Foto: googleimage)
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (Foto: googleimage)

JATIMTIMES, JAKARTA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman punya alasan sendiri terkait tingginya harga berbagai komoditas di lapangan. Menurutnya, kenaikan harga tidak semata karena kurangnya pasokan, melainkan juga karena distribusi yang tak merata.

"Tidak selamanya harga naik menjulang tinggi karena suplai kurang. Cabai, bawang, itu pasokannya ada, tapi tidak tersebar. Apa benar kita impor? Tidak. Harga beras naik di Februari 30 persen tapi kita tidak impor. Orang yang tidak paham, begitu harga naik di kepala ialah pasokan kurang," ujarnya pada bazar produk pertanian, Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin (24/8/2015).

Untuk itu, ia berharap pengamat maupun masyarakat bisa melihat persoalan kenaikan harga secara menyeluruh bukan langsung menyimpulkan kenaikan harga karena pasokan yang kurang. Dan demi mendorong meratanya penyebaran komoditas dan ketersediaan pasokan, toko tani murah dianggap sebagai solusi di masa depan.

"Kita buat solusi permanen, setiap titik pasar strategis kita buat pasar tani," imbuhnya.

Sementara Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mengatakan jika produk pertanian selama ini dikuasai pedagang sehingga margin harga kerap ditentukan pedagang. Untuk itu ia mendesak pemerintah untukĀ  sejak awal mendorong jangan sampai harga terus-menerus diatur pedagang dengan keuntungan lebih besar dari petani.

"Kalau begini kan (harga diatur) pedagang kan mau-maunya pedagang. Petani mengeluh terus, pak saya jual cabai Rp 17 ribu per kilogram kok bapak (pedagang) di sana bisa Rp 40 ribu per kilogram, bisa Rp 55 ribu, Rp 56 ribu per kilogram. Saya (petani) jualnya hanya Rp 20 ribu per kilogram, artinya menikmati untung itu pedagang," tambahnya. (*)