Wawan Susetya, Penulis Budaya Asli Tulungagung
23 - Jul - 2017, 03:32
Lepas Jum’atan, kru Tulungagung TIMES bertandang ke rumah penulis budaya, Wawan Susetya.
Laki-laki yang aktivitas setiap harinya menulis ini tinggal bersama anak kembarnya dan istri di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Usai dipersilakan duduk, sembari menikmati kue THR (Turahan Hari Raya), kru Tulungagung TIMES mulai mengorek sejarah dan motivasi Wawan Susetya memilih profesi menjadi penulis, terutama tentang tema- tema seni dan budaya.
“Saya selama ini menulis buku, terutama buku budaya. Karena saya berada di lingkungan yang di situ tumbuh subur kehidupan kesenian dan budaya. Nah, dari situlah saya kemudian tergugah dari situasi sekeliling saya. Saya berusahan untuk mengangkat tulisan tentang seni dan budaya” ungkap Wawan memulai kisah perjalanannya menjadi penulis budaya.
Laki-laki yang juga seorang dalang ini memiliki beberapa misi terkait dengan karya tulisnya. Menurutnya, menulis seni dan budaya bukan hanya sekadar bisa diterbitkan oleh penerbit saja, yang terpenting dalam konteks ini, bagaimana sebisa mungkin berusaha untuk memelihara kelestarian khasanah budaya.
Ditanya prospek pangsa pasar tulisan seni dan budaya, penulis yang sudah menghasilkan 82 buku ini mengaku kalau hal tersebut bukanlah menjadi tujuan utamanya.
Kalau tujuannya adalah booming atau menjadi laris-manis di pasaran, menurutnya, bukan seni dan budaya yang ditulis.
“Secara umum saya sudah tahu bahwa pangsa yang menarik dalam konteks tulisan itu terutama, misalnya menyangkut tentang novel remaja yang secara umum ini sampai 80%. Jadi novel remaja. Kalau kita kategorikan mulai SMP, SMA sampai perguruan tinggi yang muatannya adalah novel-novel ramaja” ungkapnya.
Aktivitas menulis buku ini sudah sejak tahun 2003 Wawan tekuni. Tepatnya sejak menikah. Sejak itu, pria yang juga sering menjadi pembicara publik ini berikrar ingin sepenuhnya konsen menjadi penulis.
Meski demikian, dari masih duduk di bangku SMP sudah memiliki tekat kuat menjadi penulis dengan terus berlatih menulis cerpen, berita, dan sebaginya.
Ayah si kembar ini juga membeberkan tema-tema dan sirkulasi buku-buku yang telah diterbitkan oleh beberapa penerbit dalam dan luar negri. Bukunya yang terbaru adalah Pemimpin Masa Kini dan Budaya Jawa. Buku ini berisi tentang budaya, sekaligus di dalamnya ada unsur kepemimpinan.
“Ada beberapa buku yang diterbitkan di penerbit PTS Milenia Selangor, Malaysia. Itu sekitar 9 buku. Buku-buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa melayu, dan beredarnya ke beberapa negara di Asia tenggara seperti Malaysia, Brunei Darusslam, Vietnam, Thailand, Philipina, Singapura, termasuk Indonesia” kisahnya.
Ditanya tentang pahit manisnya menulis, Wawan Susetya mengaku mudah, sekaligus sulit. Dia juga berharap para akademisi mampu menulis buku. Idealnya seorang guru atau dosen bisa menulis satu buku saja seumur hidupnya terkait dengan keahliannya.
“Menulislah apa yang Anda kuasai, dan menulislah apa yang anda sukai. Seorang guru agama, misalnya, tentu akan menguasai mata pelajaan itu, dan tentu itu disukai karena tiap hari bergelut dengan pelajaran tersebut” pungkas pemilik nama pena Muhammed Hasan Basri.
