Kepala BNPB Letjend TNI Doni Monardo

Kepala BNPB Letjend TNI Doni Monardo



Eks Danjen Kopassus Letjend TNI Doni Monardo berkunjung ke Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (11/7) malam. Di sana Doni ditemui langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Seperti diketahui Doni saat ini bertugas sebagai kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Kunjungan dia ke Jawa Timur kali ini adalah untuk melepas Ekspedisi Destana (Desa dan Istana) di Banyuwangi, Jum'at (12/7).

"Kenapa kita lepas start dari Banyuwangi? Karena pada tahun 1994 lalu pernah terjadi gempa dan tsunami di Banyuwangi yang korbannya sangat besar lebih dari 250 orang. Dan kita ingin kembali mengingatkan ingatan masyarakat supaya tidak boleh lupa," ujar Doni kepada awak media.

Menurut dia peristiwa ini kemungkinan akan berulang. Sebab merupakan peristiwa alam yang memiliki siklus. "Ada waktu ulang tahunnya. Hanya waktu ulang tahunnya kita tidak tahu. Tapi bukan hanya di Banyuwangi. Kita akan menyusuri bagian selatan dari pantai pulau Jawa yang nanti akan berakhir di Banten," tegas Doni.

Selain itu kata dia beberapa daerah juga pernah dilanda gempa dan tsunami. Seperti di Pangandaran, kemudian juga di daerah Banten. "Ini jadi prioritas dikunjungi kemudian beri edukasi kepada penduduk. Sekalian juga menyampaikan pola kesiagaan, mitigasi. Sehingga diharapkan masyarakat kita tidak perlu takut, tidak perlu khawatir," bebernya.

Dia kemudian mencontohkan misal ada gempa besar yang dirasakan masyarakat. "Katakan lah sekitar 30 detik. Kurang dari tiga menit alarm peringatan berbunyi, maka mereka harus segera meninggalkan daerah yang rendah. Pindah tempat yang tingginya sekitar 30 meter," lanjut jenderal bintang tiga ini.

Namun jelas dia ada juga kendala di lapangan. Sebab tidak semua desa memiliki bukit yang tinggi. "Maka kita mengajak masyarakat untuk melihat. Apa yang bisa dimanfaatkan di sekitar rumah mereka. Kita sampaikan ada pohon besar dan itu dirancang mungkin buat tangga di sekitar pohon atau ada tali sehingga kalau ada peristiwa terjadi masyarakat sudah terlatih," kata pria asal Jawa Barat ini.

Demikian juga jelasnya agar jangan melakukan upaya yang dapat menimbulkan masalah ekosistem. "Terutama mangrove. Jangan menebang mangrove. Terutama di selatan pulau Jawa adalah tempat untuk melindungi masyarakat dari dorongan air tsunami," tuturnya.

Dengan membangun sistem mulai saat ini dianggap sama dengan menyiapkan generasi yang akan datang untuk bisa selamat. "Kemudian kita juga melibatkan para ulama, tokoh masyarakat, budayawan untuk menggali potensi daerah. Karena tiap daerah tidak sama," lanjutnya kembali.

"Pendekatan ini kita harap bisa efektif membuat masyarakat sadar. Dan kita juga mengimbau para pemimpin di daerah para bupati, wali kota sampai camat dan kepala desa ini harus mengetahui apa potensi ancaman di daerah masing-masing dan kemudian bagaimana menyiapkan strateginya agar masyarakat kita bisa selamat," imbuh Doni.
 


End of content

No more pages to load